Obat Tradisional Patah Tulang

| Jumat, 28 Januari 2011
Tanaman obat tradisional ini biasa disebut tanaman Patah Tulang yang berasal dari Afrika tropis. Di Indonesia, ditanam sebagai tanaman pagar, tanaman hias di pot, tanaman obat, atau tumbuh liar. Dapat ditemukan dari dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl. Tanaman ini menyukai tempat terbuka yang terkena cahaya matahari langsung.

Perdu yang tumbuh tegak ini mempunyai tinggi 2-6 m dengan pangkal berkayu, bercabang banyak, dan bergetah seperti susu yang beracun. Patah tulang mempunyai ranting yang bulat silindris berbentuk pensil, beralur halus membujur, dan berwarna hijau.

Rantingnya setelah tumbuh sekitar satu jengkal akan segera bercabang dua yang letaknya melintang, demikian seterusnya sehingga tampak seperti percabangan yang terpatah-patah. Daunnya jarang, terdapat pada ujung ranting yang masih muda, kecil-kecil, bentuknya lanset, panjang 7-25 mm, dan cepat rontok. Bunga majemuk, tersusun seperti mangkuk, warnanya kuning kehijauan seperti ranting. Jika masak, buahnya akan pecah dan melemparkan biji-bijinya.


Jika dibakar, ranting patah tulang yang telah kering dapat mengusir nyamuk. Getahnya dipakai sebagai untuk meracuni ikan sehingga mudah ditangkap. Namun, jika getah patah tulang mengenai mata, bisa menyebabkan buta. Di Jawa, tanaman ini jarang berbunga. Perbanyakan bisa dilakukan dengan stek batang.

Sifat dan Khasiat
Bau lemah, rasa mula-mula tawar, lama kelamaan timbul rasa tebal di lidah. Getah beracun (toksik), perangsang muntah.

Kandungan Kimia
Getah sifatnya asam (acrid latex), mengandung senyawa euphorbone, taraksasterol, laktucerol, euphol, senyawa damar yang menyebabkan rasa tajam ataupun kerusakan pada selaput lendir, kautschuk (zat karet), dan zat pahit.
Herba patah tulang mengandung glikosid, sapogenin, dan asam ellaf.

Bagian yang Digunakan
Bagian tanaman yang digunakan sebagai obat adalah akar, batang kayu, ranting, dan getahnya.

Indikasi
Akar dan ranting digunakan untuk :

   1. nyeri lambung (gastristis),
   2. tukak rongga hidung,
   3. rematik, tulang terasa sakit,
   4. nyeri saraf,
   5. Wasir, dan
   6. sifillis

Batang kayu digunakan untuk :

   1. sakit kulit
   2. kusta (Morbus Hanses), dan
   3. kaki dan tangan baal

Cara Pakai
Giling akar dan ranting patah tulang yang telah dikeringkan sampai halus menjadi bubuk. Campur dengan lontong beras sampai merata, lalu buat pil kecil-kecil sebesar telur cecak. Jemur sampai kering supaya bisa disimpan. Dimakan jika perlu.

Pemakaian luar digunakan dengan cara sebagai berikut. Tumbuk herba segar sampai halus, lalu turapkan ke tempat yang sakit, seperti bisul, kurap, terkilir, tulang patah, rematik, tahi lalat membesar dan gatal, cacar ular (herpes zooster), borok atau ulkus duri atau tulang ikan. Atau, bisa juga herba segar ditumbuk halus, lalu campur dengan susu untuk penyakit kulit, seperti gatal-gatal, kurap, tumor, kutil, dan kapalan (clavus)

Catatan:
Hati-hati mematahkan dahan patah tulang agar getah tidak mengenai mata. Jika getah memerciki mata, cepat bilas dengan air kelapa atau santan. Getah bisa menyebabkan mata menjadi buta.

Diagnosa Patah Tulang
 
Secara umum, dokter dapat melakukan diagnosa patah tulang melalui tahapan-tahapan berikut:


1. wawancara, untuk mengetahui kemungkinan mekanisme cedera, sehingga dapat diperkirakan seberapa parah cedera yang terjadi
2. pemeriksaan fisik, untuk mendapatkan tanda-tanda obyektif patah tulang melalui tahapan inspeksi (melihat) dan palpasi (meraba)
3. pemeriksaan radiologis, atau foto rontgen. Dengan rontgen dapat diketahui dengan pasti adanya patah tulang

Proses Penyembuhan Patah Tulang

 
Penyembuhan tulang normal merupakan suatu proses biologis yang luar biasa karena tulang dapat sembuh tanpa “bekas” atau “jaringan parut”. Artinya tulang yang patah akan disambung dengan tulang yang baru. Berbeda dengan ligamen yang proses penyembuhannya akan digantikan dengan jaringan parut. Berikut akan dijelaskan secara singkat proses penyembuhan tulang secara normal (diambil dari Textbook of Disorders and Injuries of the Musculosceletal System karangan Robert Bruce Salter, halaman 427-428) :


1. Fase awal penyembuhan dari jaringan lunak
Pada patah tulang, akan terjadi robekan pembuluh darah kecil di sekitar tempat cedera. Setelah terjadi pendarahan maka tubuh akan merespon dan terbentuklah bekuan darah (clot/hematoma). Hematoma di tempat patah tulang ini merupakan tempat dimana proses penyembuhan patah tulang pertama kali terjadi. Akan terjadi ledakan populasi sel-sel pembentuk tulang baru (osteogenic cells) untuk membentuk callus yang berfungsi sebagai ”lem” untuk menjaga agar tulang yang patah tidak mudah bergerak. Pada fase ini callus yang terbentuk masih lunak dan sebagian besar mengandung cairan.


2. Fase Penyambungan Tulang secara Klinis (Clinical Union)
Callus semakin lama akan semakin mengeras dan sebagian akan digantikan oleh tulang immatur/belum dewasa. Pada saat callus ini telah mengeras sehingga tidak lagi terjadi pergerakan di sekitar tulang yang patah, maka dikatakan telah memasuki fase penyambungan tulang secara klinis (Clinical Union), namun garis patah tulang masih akan terlihat. Saat fase ini pasien tidak merasakan nyeri apabila bagian yang patah digerakkan.


3. Fase Konsolidasi atau Penyambungan secara Radiologis (Radiographic Union)
Saat semua tulang muda (immatur) dalam callus telah tergantikan oleh tulang yang dewasa (matur) maka dikatakan telah memasuki fase Radiographic Union. Garis patah tulang tidak akan terlihat lagi.

Setelah memahami proses penyembuhan tulang secara normal, kita dapat memahami bahwa tulang yang patah, secara alami akan dapat menyambung sendiri tanpa harus dimanipulasi. Hal ini pula yang dijadikan patokan oleh oknum dukun patah tulang yang kurang kompeten. Oknum dukun patah tulang paham bahwa penyambungan tulang merupakan proses alami tubuh, oleh karenanya mereka melakukan manipulasi untuk menyambung tulang dengan hanya berdasar trial and error serta pengalaman tanpa adanya pelatihan khusus.

Saat pasien patah tulang datang untuk berobat, baik ke dokter maupun ke pengobatan alternatif, pasien akan mengharapkan kesembuhan dalam artian:


1. tulang yang patah dapat menyambung
2. bagian tubuh yang cedera dapat digunakan kembali/berfungsi secara normal
3. terhindar dari komplikasi

MASALAHNYA..

 
Seperti penjelasan di atas, penyambungan tulang patah merupakan proses alami tubuh yang akan terjadi meskipun tanpa manipulasi tertentu. Tetapi, penyambungan tulang (union) yang bagaimana yang diharapkan pasien? Pasien tentu mengharapkan tulang menyambung seperti sedia kala, dengan posisi normal sesuai posisi asli sebelum patah (posisi anatomis), dan hal ini hanya dapat dicapai/dilakukan oleh orang yang telah memiliki kompetensi setelah menjalani proses pembelajaran dan pelatihan dalam waktu yang cukup lama, bukan berdasarkan trial and error.


Manipulasi yang tidak tepat memang pada akhirnya akan menyebabkan tulang yang patah menyambung, namun tidak dalam posisi normal atau posisi anatomis, akibatnya akan terjadi deformitas/kelainan bentuk pada anggota tubuh yang terkena, misalnya tangan jadi terlihat bengkok.


Masalah fungsi normal, jelas bahwa dengan tercapainya posisi anatomis maka diharapkan pasien dapat kembali menggunakan bagian tubuh yang cedera seperti sebelum sakit. Saat ini banyak sekali kasus dimana setelah berobat ke pengobatan alternatif, tulang patah memang menyambung, tapi pasien harus menanggung komplikasi misalnya jalan menjadi pincang, rentang gerakan sendi menurun (misal tangan tidak bisa lurus dengan maksimal), dan tidak jarang kecacatan ini harus ditanggung seumur hidup.


Ada tiga proses penyembuhan patah tulang yang tidak normal akibat tidak ditangani sama sekali atau ditangani oleh orang yang tidak kompeten:


1. Malunion: patah tulang dapat sembuh sesuai waktu yang diperkirakan/normal namun posisinya tidak seperti awal/tidak sesuai posisi anatomis, sehingga menyebabkan kelainan bentuk tulang
2. Delayed union: patah tulang pada akhirnya akan sembuh namun membutuhkan waktu lebih lama daripada waktu penyembuhan normal.


3. Pseudoarthrosis: patah tulang gagal sembuh/menyambung dan akan disertai pembentukan jaringan fibrosa atau false joint, artinya bagian yang patah tidak akan berfungsi dengan normal seperti sebelum sakit.

Komplikasi yang lebih buruk dan mengancam jiwa terjadi apabila pasien menderita patah tulang terbuka (ada hubungan antara tulang dengan lingkungan luar). Kasus patah tulang terbuka merupakan kasus gawat darurat yang harus ditangani secepatnya di meja operasi karena adanya resiko infeksi yang sangat besar. Infeksi ini apabila tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan kematian. Jelas bahwa untuk kasus patah tulang terbuka, pengobatan alternatif tidak memiliki kompetensi. (Orthopaedia & Traumatology
dr.Rudy Dewantara)

3 komentar:

Anonim at: 10 Juni 2012 05.21 mengatakan...

ini mengobati patah tulang atau tentang tumbuhan patah tulang? bingung saya :)

{ heri anto } at: 27 Mei 2013 23.24 mengatakan...

http://klinikpatahtulang.blogspot.com/

{ Rumah Herba FANELIA } at: 20 Oktober 2013 12.53 mengatakan...

Obat Herba Khusus PATAH TULANG.
GAMAT EMAS mengandung lebih banyak kolagen sebagai bahan perekat tulang, glukosamin dan kondroitin sulfat yang berguna merangsang pertumbuhan tulang rawan, memperbaiki jaringan tulang rawan yang rusak dan gangguan persendian. Sangat efektif untuk mengobati patah tulang dan nyeri sendi. Harga Rp. 212.500,- (70 Kapsul). Jl. Hankam 62 Ragunan JakSel. Telp. 021 - 710 85 910 / 0856 910 910 09 (SMS OK). http://faneliaherbs1.wordpress.com ; faneliaherbs@yahoo.com

Poskan Komentar

 

Copyright © 2010 Klinik.com Blogger Template by Dzignine